JAKARTA – Menteri Desa,
Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Eko Putro Sandjojo
melepas 40 peserta Benchmarking Batch II yang terdiri dari Kepala Desa,
Penggiat Desa, Pendamping Desa ke Republik Rakyat Tiongkok dan India
pada Senin (2/9) di Kantor Kemendes PDTT. Kegiatan ini diharapkan bisa
mempercepat pembangunan di desa-desa melalui peningkatan kualitas sumber
daya manusia yang ada di desa.
Mendes PDTT mengapresiasi pemerintah
Repuplik Rakyat Tiongkok dan India yang memberikan kesempatan para
penggiat desa untuk belajar di sana. Sebelumnya sudah sukses
dilaksanakan benchmarking batch I ke Tiongkok dan Korea Selatan, yang
dilakukan tanpa menggunakan APBN tapi murni karena menjalin hubungan
baik. Dalam arahannya, ia berpesan para peserta untuk dapat menjalin
hubungan baik secara pribadi dengan penggiat desa di dua negara
tersebut.
“Kuncinya itu, jadi saya mau kalian
selain belajar, juga membina hubungan pribadi dengan kepala desa dan
pengurus-pengurus Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) yang ada di China atau
India, dengan hubungan baik itu kalian bisa membantu untuk saling
memasarkan produk-produk desa baik di China atau India,” katanya.
Lebih lanjut Eko mengatakan bahwa pada
batch pertama lumayan bagus, jadi mereka selain di kirim ke Tiongkok,
beberapa dari mereka yang dianggap idenya visible ternyata bisa
menjadikan desanya untuk dijadikan model/desa percontohan untuk
daerah-daerah lainnya.
“Dan ini cukup efektif. Saya monitor di
WAG mereka, mereka proaktif, ide-idenya banyak sehingga pemanfaatan dana
desa dan inovasi desa bisa lebih baik,” ungkapnya
Jadi untuk desa-desa yang cukup
berhasil, dikirim supaya bisa jadi contoh desa-desa lain dan dari China
akan memberikan pendampingan di Indonesia. Termasuk pasca panen.
“Saya harapkan kalian jadi motor-motor
pembangunan di desa-desa kalian semua. Belajar dari mereka karena
pembangunan desanya cukup baik. Belajar bagaimana mereka kelola pasca
panen, desa wisata, bisa terapkan pola-pola keberhasilan di kedua negara
tersebut di Indonesia,” pungkasnya.
Sementara itu, Minister Counsellor for
Economic and Commercial Affairs, Embassy of China Wang Liping mengatakan
exciting bisa memberangkatkan Kepala Desa ke Tiongkok. Menurutnya
kesuksesan Benchmarking Batch II ini berkaitan dengan perhatian langsung
Mendes PDTT dan Dubes Tiongkok di Indonesia.
“Benchmarking ini akan kunjungi 4 kota
di Tiongkok, yaitu Beijing, Huzhou, Hangzhou, dan Shanghai, ada pusat
politik, kebudayaan, ekonomi. Nanti akan belajar di kota Huzhou tempat
dimana reformasi perdesaan di Tiongkok bermula, kota ini merupakan desa
paling kaya. Di sana juga akan symposium antar BUMDes, kerjasama
agriculture, pengolahan makanan dan lain-lain,” terangnya.
Ia mengungkapkan bahwa kekayaan suatu
negara ditentukan dari kekayaan dan kestabilan perdesaan, kedepannya ia
berharap investasi pertanian dan perdesaan menjadi hal yang penting.
“Para peserta, saya berharap perjalan
kalian berhasil sehingga menjadi pembaharu untuk pengembangan desa
kalian masing-masing dan kerjasama dengan Tiongkok. Selamat belajar dan
benar-benar berhasil, saya akan menemani sepanjang perjalanan,”
pesannya.
Sejalan dengan hal tersebut, Minister
Counsellor for Economic and Commercial Affairs, Embassy of India V.
Narayanan mengatakan program India Technical Coperation (ITEC) pertama
kali tahun 1964 bertujuan sebagai ajang berbagi pengalaman baik kisah
sukses dari India untuk dibagikan ke negara sahabat. Dari Indonesia
sendiri sudah 1.300 orang yang mengikuti program ini.
Program ini bertujuan untuk memahami
berbagai metode yg diterapkan oleh pemerintah India dalam pembangunan
perdesaan di India yang dimulai dari bawah, dengan menyaksikan langsung
kisah sukses yang ada di desa.
“Nanti para peserta akan mengunjungi
salah satu negara bagian, dimana ada kelompok pemberdayaan perempuan
terbesar. Saya sangat berharap program ini membantu meningkatkan wawasan
para peserta. Yang lebih penting lagi pertukaran yang terjadi, agar
Kepala Desa yang pergi ke India dapat juga membagi yang ada di desanya
sehingga kami juga dapat belajar dari desa-desa yang ada di Indonesia,”
tuturnya.
Sekretaris Jenderal Kemendes PDTT Anwar
Sanusi mengatakan bahwa kegiatan Benchmarking diikuti oleh 40 peserta
terdiri dari 34 laki laki dan 6 orang perempuan yang terdiri dari unsur
Kepala Desa, Penggiat Desa, dan Pendamping Desa yang mewakili 29
Kabupaten di 17 Provinsi, Sumatera Utara, Riau, Jambi, Banten, Jawa
Barat, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Nusa
Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Selatan, Kalimantan
Barat, Sulawesi Tengah, Gorontalo, Sulawesi Selatan dan Maluku Utara.
Pelatihan Benchmarking di Tiongkok
dilaksanakan melalui kerjasama dengan Kedutaan Besar Republik Rakyat
Tiongkok dan Kementerian Pertanian dan Perdesaan di Tiongkok. Peserta
akan mengikuti pelatihan di 4 kota dimulai dari Beijing, Huzhou,
Hangzhou, dan Shanghai. Pelatihan akan dilakukan selama 17 hari dari 3 –
18 September 2019, diikuti oleh 26 peserta dari desa dan didampingi
oleh 4 pejabat dari Kemendesa serta 2 orang dari Kedutaan Tiongkok di
Indonesia.
Sedangkan untuk pelatihan Benchmarking
di India dilaksanakan melalui kerjasama dengan kedutaan Besar India di
Indonesia dan India Technical Coperation (ITEC). Peserta yang akan
mengikuti pelatihan sebanyak 14 orang dari desa dan 4 pejabat pendamping
dari Kemendesa yang akan mengikuti pelatihan selama 14 hari yaitu dari
tanggal 2 – 15 September 2019 di National Institue of Rural Development,
Hyderabad.
“Kerjakan yang terbaik karena itu menentukan keberlanjutan program-program ke India,” ujarnya.
Tema-tema yang akan dipelajari dikedua
negara tersebut yaitu kebijakan pembangunan desa, kebijakan pengentasan
kemiskinan, pengembangan desa wisata (village tourism), pengembangan
desa digital (e-village), kewirausahaan, pengolahan hasil produksi
pertanian dan pertukaran budaya.
Format benchmarking yang dilakukan
merupakan kombinasi antara pembelajaran dikelas, diskusi dan melihat
langsung dilapangan serta melakukan interaksi dengan pelaku-pelaku
pembangunan perdesaan di kedua negara.
Seluruh pembiayaan kegiatan benchmarking
gelombang ke-2 ini bersumber dari pemerintah Tiongok dan pemerintahan
India. Untuk itu kami mengucapkan terimakasih kepada Kedutaan Besar
Tiongkok dan India untuk Indonesia.
Benchmarking gelombang kedua ini
diharapkan dapat meningkatkan kompetensi kepala desa, penggiat desa, dan
pendamping desa dalam pengelolaan dan pembangunan desa, dan memunculkan
inovasi-inovasi dalam pengelolaan dan pembangunan desa serta dapat
membangun jaringan pengetahuan dan membuka pasar antar kepala desa,
penggiat desa, dan pendamping desa dengan mitra luar negeri.
Sumber : https://www.kemendesa.go.id/view/detil/2960/mendes-pdtt-lepas-keberangkatan-penggiat-desa-ke-tiongkok-dan-india
0 Komentar